Dompu – Daerah Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), kini memasuki usai ke 211 tahun. Daerah kecil yang berada ditengah pulau Sumbawa itu diamini oleh berbagai suku dan etnis pendatang.
Sama seperti daerah lainnya, Dompu merupakan daerah yang masyarakat nya sangat menerima perbedaan dan keragaman indentitas. Mereka hidup rukun tanpa mengintimidasi, mengganggu dan mengusik warga pendatang.
Tanggal 11 April diperingati sebagai hari lahir atau hari jadi Dompu. Pada tahun 2026 ini, Dompu tepat berusia 211 tahun sejak dicetuskan pada 11 April 1815 bertepatan dengan hari meletusnya gunung Tambora.
Pada setiap tahunnya, pemerintah Kabupaten Dompu selalu menggelar acara budaya yang didalamnya dilibatkan etnis atau suku pendatang. Tak heran jika para pendatang itu heboh dengan adat daerah asal mereka.
Ada yang memakai baju adat, peragaan tarian maupun musik daerah asal serta tampilan permainan tradisional mereka. Dalam karnaval budaya menyambut peringatan HUT Dompu ke 211 pada Rabu (1/4/2026) lalu, mereka bersatu menjadikan keindahan ditengah perbedaan.
Salah satunya adalah etnis Lombok (Sasak) yang telah lama mendiami wilayah Barat Daerah Dompu. Mereka menggunakan pakai adat sambil memainkan musik tradisional Gendang Beleq.

Selain itu terlihat juga sekelompok wanita yang memakai kebaya putih. Mereka merupakan kelompok etnis dari Bali yang juga telah lama mendiami beberapa wilayah di Dompu.
Dalam karnaval itu, mereka tampil dengan pakaian adat mereka dengan mengenakan Kebaya Bali khas dengan Selendang (Senteng) yang diikatkan di pinggang, serta kain Wastra/Kamen sebagai bawahan.

Para Gek Bali itu juga membawa sesuatu diatas kepala mereka. Benda yang dibawa oleh para wanita di atas kepala mereka disebut dengan Banten Pajegan atau sering disebut Gebogan yang berisikan buah-buahan, jajanan tradisional, dan bunga-bunga yang menggunakan Dulang.
Ditengah-tengah kemeriahan itu, ada juga kelompok etnis dari Nusa Tenggara Timur (NTT) seperti Flores, Sumba, Timor, Rote, Alor dan Sabu. Mereka juga memakai pakaian adat masing-masing seperti Kain Tenun Tais atau Lipa, Topi Ti’i Langga dari Pulau Rote, serta busana tarian Caci merupakan tarian perang tradisional dari suku Manggarai Pulau Flores.

Bupati Dompu Bambang Firdaus mengatakan, momentum karnaval ini adalah ajang untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Dompu adalah miniatur Indonesia yang didalamnya didiami oleh berbagai suku atau etnis. Mereka menjadi potensi sebagai lokomotif kemajuan Dompu.
“Keberagaman ini menjadi modal pembangunan, suku dan budaya merupakan potensi besar bila kita kelola dengan sebaik-baiknya, berbagai macam latar belakang akan menjadi kekuatan/potensi untuk memajukan pembangunan di Kabupaten Dompu,” ujar Bambang.
Dikatakannya, visi Pemerintah Kabupaten Dompu salah satunya Dompu Berbudaya. Momentum karnaval ini sebagai bentuk untuk mengembalikan, mengingatkan dan menguatkan bahwa Dompu punya ciri khas budaya dan keunikan
“Momentum karnaval sebagai wujud kebanggaan kita, ajang untuk melestarikan sekaligus mempromosikan kepada masyarakat luas, bahwa kita selain mempunyai kekayaan alam, juga memiliki keanekaragaman,” tuturnya. (*)






